mediaciptaprestasi

mental Juang Seorang HR

Apa kabar HR Yang berkeadilan?

Sudah lama ia tak bekerja sejak terjadi pandemi COVID terjadi pemecatan secara sepihak Karena imbas dari usaha Yang gulung tikar COVID.

Sayangnya, ketika ia hendak melamar pekerjaan Ada kendala yang harus ia hadapi Di umurnya yang hampir menginjak 50 tahun. Ya, umur.

Otaknya masih cemerlang sebagai karyawan, posisinya saat itu sebagai accounting Bukan tanpa alasan ia mendapatkan pemecatan secara sepihak, selain perusahaan yang keberatan membayarkan pensiunnya terhitung sekitar 20 tahun ia bekerja Di perusahaan Itu.

Sudah 3 tahun ia mencoba melamar kesana kemari dengan alasan umur. Posisi terakhirnya sebagai supervisor accounting tidaklah mudah ia dapatkan kembali.
Bahkan ia mencoba Di posisi staf ternyata Sudah gagal di awal karena tentu perusahaan menginginkan generasi yang lebih muda karena dengan alasan lebih fresh dan Up to date.

Namun banyak dari Para HR tidak mudah memahami begitu sulitnya memegang tanggung jawab dalam memilih orang yang tepat. Apakah harus generasi muda dengan dibatasi Oleh umur untuk setiap posisinya? Bagaimana bila Para HR sendiri tidak mampu mempertahankan generasi muda ini justru ternyata lebih tergiur dengan iming-iming perusahaan tetangga?

Bagi para HR hal ini menjadi serba salah, setelah si Muda mendapatkan banyak benefit dari perusahaan seperti training, liburan gratis, lalu dengan cepat meninggalkan kita. Tentu para HR ingin sekali mereka yang memiliki kualifikasi baik menjadi change agent bagi perusahaannya. Namun bagaimana cara mempertahankan si Muda?

Menjadi sebuah dilema tersendiri beda permasalahan dengan Dia yang memiliki loyalitas Yang baik Karena sudah berumur.

Sudah saatnya para HR memiliki Mind set yang berbeda dalam mencari kandidat terbaik. Tanpa harus menuliskan batasan umur maupun gender rasanya ini lebih baik dalam hal memberikan perubahan dunia sumber daya manusia (writed by Ardhani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *